Senin, 15 Januari 2018


IRONI KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP ANAK DI NEGERI INI
PENDAHULUAN
a.      Penampakan Kekerasan Seksual Di Indonesia
Di Indonesia kasus kekerasan seksual menjadi pemberitaan setiap saat, korbannya bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja, anak-anak bahkan balita. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin sering terjadi dan menjadi global hampir di berbagai negara. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya adalah kebanyakan dari lingkungan keluarga atau lingkungan sekitar anak itu berada, antara lain di dalam rumahnya sendiri, sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak. Seperti kita ketahui bersama Kekerasan seksual adalah salah satu kasus yang sangat mengerikan saat ini apatah lagi kasus ini dialamai oleh anak-anak. Yang menjadi tragis karena yang melakukan kekerasan ini yaitu orang dewasa, dimana kita ketahui bahwa orang dewasa seharusnya melindungi, mengayomi, mendidik anak anak sebagai aset dan generasi bangsa di masa akan datang. Kasus ini sepertinya sudah tidak terbendung lagi di negeri ini menurut Komisioner KPAI Jasra Putra mengungkapkan, data menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015. Sementara pada 2016, KPAI mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Kemudian di 2017, tercatat sebanyak 116 kasus. Walaupun data tersebut menunjukkan adanya penurunan disetiap tahun tapi ini tetap menjadi tugas besar untuk kita semua. Karena boleh jadi kasus yang Nampak hanya berkisaran diatas ratusan tetapi masih banyak kasus yang sama tidak terungkap. Boleh jadi kasus ini menjadi rahasia dan disembunyikan bertahun-tahun oleh pelaku dan korban sehingga tidak terdata. OLeh karena itu tugas kita sebagai generasi muda mengungkap semua kasus yang semacam ini dan menindaklanjuti agar tidak terulang lagi dan berharap pelaku atau fidofilia ( penyuka anak-anak) berfikir beribu kali untuk mengulangi perbuatannya.
Peristiwa pelecehan seksual terhadap anak TK internasional di Jakarta sungguh mengguncang hati setiap orang yang memiliki nurani. Apalagi berita terakhir, korban ternyata tidak hanya sekali mengalami kekerasan seksual dengan pelaku yang lebih dari satu orang. Sekolah yang katanya berstandar internasional, dengan bayaran 20 juta per bulan, memiliki ratusan CCTV, ternyata bukan tempat yang aman bagi anak-anak. Kasus JIS, seolah menjadi pintu pembuka bagi terungkapnya berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan latar belakang yang berbeda-beda. Baru-baru ini beberapa kasus serupa yang membuat hati miris menyaksikannya yaitu kasus yang terjadi di Kecematan Sukatani Purwakarta, pelaku warga kampong Gebang Malang , Desa cipicung kecematan Sukatani. Pelaku ditangkap dirumahnya 1 november 2017 , penangkapan ini berdasarkan laporan dari paman korban. Dan berdasarkan laporan pelaku adalah tetangga korban dimana motif untuk melancarkan aksi pelaku yaitu mengimi-ngimingi sejumlah uang kepada korban sehingga terjadilah kasus ini berulang-ulang kali sejak oktober yang lalu. Karena korban merasa takut dan trauma sehingga perbuatan pelaku dilaporkan oleh sang paman. Dari beberapa contoh kasus nyata yang terjadi disekitar kita ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kita semua apalagi ketika kita memiliki anak, kopenakan, cucu harus senangtiasa dibawa bimbingan dan pengawasan kita. Bukan hanya satu kasus atau bahkan dua kasus tetapi sudah beratus-ratus kasus yang terjadi dengan kasus yang sama yaitu kekerasan seksual pada anak. Oleh Karena itu orang tua harus waspada agar senangtiasa mengawasi dan mendidik anak karena baik di sekolah maupun dilingkungan keluarga apatahlagi di lingkungan umum tidak terjamin keamanannya. Ini menandakan orang dewasa yang terjankit fidofilia semakin meningkat bahkan bukan hanya itu mereka memiliki komunitas salah satunya yaitu komunitas Candy’s Group dan masih banyak komunitas fidofilia yang belum terungkap oleh oknum kopolisisan. Konten pembahasan komunitas ini berkisaran mengenai anak-anak, video anak tanpa busana, rencana dan target korban dan rencana-rencana bejat yang lain. Yang menakutkan lagi anggota dari komunitas ini lumayan banyak yaitu sekitar 7.479 orang dan memiliki visi dan misi yang sama yaitu pencinta anak-anak. Sehingga pesan yang sangat penting bagi kita sebagai orang tua yaitu benar-benar menjaga anak kita bahkan video atau foto-fotonya agar sekiranya tidak sering mempublikasiskan ke media social agar fidofilia tidak menjadikan anak kita sebagai targetnya.
b.      Faktor Penyebab Utama Kekerasan Seksual
Untuk mencari benang merah dari kasus ini terlebih dahulu kita harus membeda penyebab terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Ada beberapa faktor diantaranya. Pola pikir pelaku yang tidak sehat baik secara rohani maupun jasmani, Undang-undang yang mengatur tentang kasus ini masih dianggap lemah karena tidak memberikan efek jera terhadap pelaku, kurangnya perlindungan dari orang tua itu sendiri, Lemahnya pendidikan sex terhadap anak, kurangnya pendidikan agama terhadap anak dan pelaku, adanya kesempatan dan bahkan yang pernah menjadi korban suatu saat nanti akan menjadi pelaku. Faktor diatas hanya  segelintir jika diuraikan secara rinci maka banyak factor penyebab dari kasus ini karena berdasarkan dari berbagai kasus yang serupa factor penybebnya berbeda-beda sehingga sulit untuk diklasifikasikan secara rinci akan factor penyebab dari kasus ini karena siapa saja bisa menjadi pelaku bahkan korban.Menurut Ivo noviana ( 2015) Anak menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual karena anak selalu diposisikan sebagai sosok lemah atau yang tidak berdaya dan memiliki ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Hal inilah yang membuat anak tidak berdaya saat diancam untuk tidak memberitahukan apa yang dialaminya. Hampir dari setiap kasus yang diungkap, pelakunya adalah orang yang dekat korban. Tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang memiliki dominasi atas korban, seperti orang tua dan guru. Tidak ada satupun karakteristik khusus atau tipe kepribadian yang dapat diidentifikasi dari seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Dengan kata lain, siapa pun dapat menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak atau pedofilia. Kemampuan pelaku menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman dan kekerasan, menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual pada anak baru terungkap setelah peristiwa itu terjadi, dan tak sedikit yang berdampak fatal. Sehingga peran orang tua dan agama sangat penting untuk membendung kasus ini.
Anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual terkadang malu untuk menceritakan kasus ini selain karena mendapat ancaman dan berupa iming-iming dari pelaku maka banyka kasus yang serupa berulang kali dilakukan oleh pelaku bahkan ada sampai bertahun-tahun tidak terungkap secara luas. Sehingga pihak yang sangat dirugikan adalah anak-anak itu kerna mereka mendapatkan dampak yang sangat buruk atas perbuatan tersebut. OLeh karena itu orang tua yang memiliki peran penting harus mengenali ciri-ciri anak yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual Berdasarkan psikolog forensic dari Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk mengenali anak-anak korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus. Pemeriksaanya dapat dilakukan dengan mata telanjang. Anak yang menjadi korban sodomi memliki anus yang berbentuk corong selain itu anak sering mengeluh kesakitan diarea intimnya, anak sering mengalami gangguan pencernaan bahkan anak mengalami masalah psikologi yang sangat hebat seperti menarik diri dari lingkungan pergaulan serta mendapatkan tekanan berat dan masih banyak ciri-ciri yang lain. Jika mendapati anak-anak memiliki ciri seperti ini maka sepatutnya kita waspada dan secepatnya mengambil tindakan yang berorientasi pada solusi dan melakukan pendekatan kepada anak secara persuasive agar mereka dapat terbuka mengenai kasus yang dialaminya dengan perasaan aman dan nyaman.
c.       Dampak Kekerasan Seksual Terhada Anak
Pengamat sosiologi Universitas Indonesia (UI), Devi Rahmawati menyebutkan sedikit mengkhawatirkan mayoritas pelecehan yang dialami anak itu bukannya hanya dilakukan remaja , orang dewasa , tetapi juga kakek-kakek. Tindakan itu termasuk fase yang kritis atau melanggar HAM berat. Dan yang miris lemahnya hukum di negeri ini untuk menjerat para pelaku sehingga fidofilia meraja lelah serta semakin meningkat. Karena untuk mengungkap kasus ini membutuhkan bukti-bukti dan pengakuan dari korban sedangkan keterangan korban dibawah umur tidak bisa diakui dalam system perundangan di negeri ini. Sedangkan pelaku pada umumnya memiliki wewenang yang sangat dominnan seperti orang tua, guru, paman, tante, tetangga, serta orang-orang terdekat lainya sehingga mereka dan korban memilih diam. Oleh karena itu untuk membuktikan kasus ini dibutuhkan riset laboratorium untuk menyakinkan majelis di pengadilan untuk menjatuhkan hukuman pada korban. Dampak dari kekerasan seksual yang dialami oleh anak Dampak pelecehan seksual yang terjadi ditandai dengan adanya powerlessness, dimana korban merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa pelecehan seksual tersebut.
Tindakan kekerasan seksual pada anak membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, anak sebagai korban kekerasan seksual mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, adanya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan dengan orang lain, bayangan kejadian dimana anak menerima kekerasan seksual, mimpi buruk, insomnia, ketakutan dengan hal yang berhubungan dengan penyalahgunaan termasuk benda, bau, tempat, kunjungan dokter, masalah harga diri, disfungsi seksual, sakit kronis, kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan somatik, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Menurut Kartika (2010) kasus kekerasan seksual terhadap anak ini sepuluh kali lipat lebih kejam daripada terhadap orang dewasa. Alasannya, posisi anak masih rentan, lemah, mudah dirayu, dan dibodoh-bodohi. Selain itu, kekerasan dan pelecehan seksual bukan sekedar perbuatan fisik seperti pemerkosaan, perabaan bagian tertentu, atau mencium paksa. Perbuatan ini juga menggempur psikologis dan kepribadian anak.
Selain itu muncul gangguan-gangguan psikologis seperti pasca-trauma stress disorder, kecemasan, penyakit jiwa lain termasuk gangguan kepribadian dan gangguan identitas disosiatif, kecenderungan untuk reviktimisasi di masa dewasa, bulimia nervosa, bahkan adanya cedera fisik kepada anak (Levitan et al, 2003; Messman-Moore, Terri Patricia, 2000; Dinwiddie et al, 2000). Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina atau alat kelamin, berisiko tertular penyakit menular seksual, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, kehamilan yang tidak diinginkan dan lainnya. Sedangkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua. yaitu hilangnya rasa percaya diri, gangguan mental yang berkepanjangan, masalah kesehatan, masa depan anak itu sendiri, tauma yang berkepanjangan serta pola pikir yang tidak sehat lagi karena boleh jadi korban suatu saat akan menjadi pelaku. Seperti kita ketahui bersama bahwa anak adalah aset terbesar bangsa dimasa akan datang otomatis mereka membuttuhkan bimbingan dan perlindungan agar mereka dapat mengenyam pendidikan, berprestasi serta berkarya dalam keadaan aman tanpa tekanan dari siapapun. Sehingga kita semua baik itu dari pihak pemerintah, KPAI, Kepolisisan, HAM, Masyarakat umum, Tokoh Agama, Pendidik di sekolah, Orang Tua dan Generasi Muda Harus Berperan penting Mencegah dan memberantas kasus ini secara bertahap, terorganisir dan tuntas.
d.      Peran Generasi Muda Dalam Menghadapi Kasus Kekerasan Seksual
Bebicara mengenai peran kaum Muda saat ini memang tidak dapat diragukan lagi apatah lagi sejumlah pergerakan yang dilakukan kaum muda telah terbukti dapat menuntaskan beberapa kasus di negeri ini. Tapi sebelum melangka jauh bagaimana strategi pergerakan kaum muda dalam mewujudkan perdamaian, mencegah kekacauan, serta menuntaskan berbagai macam kasus di negeri ini maka Langka utama yang harus di lakukan oleh generasi muda adalah membentengi diri dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui agama, generasi akan mendapatkan pendidikan moral dan pendidikan karakter secara tidak langsung sehingga peluang untuk melakukan tindakan senono itu jauh. Ketika kaum muda mampu membentengi dirinya maka keyakinan terbesar mereka mampu menjadi tauladan dan melakukan pergerakan penuntasan berbagai kasus termasuk kasus kekerasan seksual kepada anak. Untuk mencegah dan mengatasi kasus ini yang pertama yang harus dilakukan mengkampanyekan pendidikan Parenting kepada orang tua, kegiatan ini sangat penting karena kegiatan ini adalah salah satu cara memahamkan orang tua bagaimana mendidik anak yang tepat agar membantu anak-anaknya memiliki karakter yang kuat. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh kaum muda melalui wadah organisasi kepemudaan dimana dalam organisasi tersebut memiliki visi misi pergerakan yang positive untuk kemajuan negeri ini. Kenapa sehingga pendidikan parenting sangat penting dan perluh dipahamkan kepada orang tua? Karena seperti kita ketahui bersama pada umumnya gambaran karakter anak-anak itu berasal dari bagaimana orang tua mereka mendidik dan membinanya, sehingga terkadang kita menemukan anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda diantaranya ada yang sopan, keras, terlalu penurut, manja, cengeng dan lain sebagainya. OLeh karena itu pendidikan dari orang tua sangat memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan karakter  anak dimana mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Langka selanjutnya adalah pendidikan sex kepada anak, jadi generasi muda membentuk kelompok kecil dimana kelompok ini berperan sebagai tempat konsultasi yang focus menangani korban kekeran seksual.Wadah ini juga yang dipelopori kaum muda menggencarkan sosialisasi pendidikan sex kepada anak baik itu di sekolah-sekolah maupun dilingkungan masyarakat. Walaupun jika menyangkut mengenai sex banyak masyarakat dan orang tua menganggap hal itu tabu dan tidak penting di komunikasikan kepada anak padahal mereka harus mengetahui  hal-hal sensitive itu dengan memberikan penjelasan yang lebih halus dan rasional kepada anak. Sehingga mereka paham dan tidak muda untuk melakukan hal-hal yang diluar kendalinya. Langka ketiga sebagai peran kaum muda yaitu memberikan dukungan serta masukan kepada pemerintah dalam penyusunan rancangaan perundang-undangan mengenai kekerasan seksual kepada anak karena undang-undang yang mengatur hal itu masih dianggap lemah dan tidak memberikan efek jera kepada korban. JIka perluh memberikan masukan dan  mendukung pemerintah dalam perancangan perudang-undangan tentang hukuman seumur hidup kepada pelaku. Mengapa harus hukuman seumur hidup ? agar sekiranya dapat memberikan efek jera kepada pelaku dan membuat calon pelaku yang lain mengurungkan niatnya untuk melakukan hal yang sama serta semua ini merupakan wujud kepedulian kaum muda dan pemerintah terhadap generasi penerus bangsa yaitu melindungi, membimbing, mendidik, dan membina sebaik-baiknya tanpa merusak masa depannya. Langka selanjutnya yaitu gencar mengotrol pergerakan fidofilia, apalagi saat ini mereka telah memiliki komunitas yang sangat besar sampai memiliki sejumlah anggota dalam jumlah yang besar juga jika perluh melaporkan ke pihak yang berwajib untuk membubarkan komunitas itu serta selain mendesak pemerintah untuk mununtut pelaku secara dihukum  pemuda juga mengkomunikasikan agar sekiranya pelaku dapat direhabilitasi. Langka terakhir yaitu mengontrol beberapa social media, video, link yang mengarah pada pornografi dan pelecehan seksual agar sekiranya di blokir bekerjasama dengan pihak keminfo dan pemerintah yang bertanggung jawab di bidang itu.
Pemuda memiliki banyak cara, langka-langka dan sejumlah strategi untuk berkonstribusi menuntaskan kasus ini, Karena  Peran pemuda dalam mengatasi setiap kasus termasuk kekerasan seksual terhadap anak senantiasa berkobar dan tidak dapat dibendung apalagi jika pergerakan yang dilakukan itu adalah hal positive. Banyak komunitas bahkan organisasi yang dipelopori oleh kaum muda sangat memberikan pengaruh positive di kalangan masyarakat apalagi dikalangaan mahasiswa dan generasi muda lainnya. Beberapa diantarannya ada yang bergerak di lingkup keagamaan, kancah perpolitikan, Bidang kesehatan, Lingkup Hak Asasi Keperempuanan serta Bidang Sosial dan Kemanusiaan termasuk Mengenai Perdamaian. Dari banyaknya kelompok-kelompok yang di pelopori kaum muda maka peran serta sumbangsi kaum muda dalam mewujudkan perdamaian menuntaskan kekacauan dan keresahan masyarakat tidak diragukan lagi terutama dalam menuntaskan kasus ini. Ada beberapa organisasi yang focus menangani mengenai kekerasan seksual dengan berbagai cara dan program yang dilakukan karena mereka memiliki visi misi untuk mencegah kekerasan seksual terhadap anak dan bahkan menuntaskan kasus ini walau membutuhkan perjuangan. Program kerja yang dilakukan diataranya menjadi jembatan antara masyarakat dan beberapa lembaga yang menangani kasus ini seperti dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak , Sejumlah dokter sepsialis anak dan kandungan serta beberapa psikologis anak, dengan menjadinya penyambung diantara mereka. Maka masyarakat memiliki akses mudah untuk mendapatkan pengetahuan dan beberapa ilmu menghdindari kasus semacam ini dari sejumlah ahli di bidang ini. Selain itu beberapa dari mereka juga melakukan sosialisasi dan penyuluhan ke sejumlah sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada anak tentang pendidikan Sex. Di Sulawesi selatan sendiri beberapa organisasi kepemudaan melakukan beberapa sosialisasi dan mengkanpanyekan ke seluruh daerah-daerah bagaimana menjadi dan mewujudkan daerah ramah anak, program ini diharapkan agar anak memiliki tempat berekspresi dengan aman dan tentram tanpa ada rasa takut dan tekanan dari siapapun dimana saja dia berada tanpa ada batasan.  Harapan terbesar dan cita-cita bangsa ini kita semua mampu mewujudkan perdamaian, kenyamanan, kerukunan serta kesejahteraan di negeri ini terutama melindungi anak-anak yang seyogyanya adalah generasi penerus bangsa yang memilki hak untuk di lindungi dan didik sebaik mungkin agar menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter dan menjadi sumber daya manusia yang unggul yang mampu memajukan negeri ini di masa yang akan datang. Mari kita semua sadar dan membuka mata akan sejumlah fenomena pelecehan anak disekitar kita dengan memulai untuk membentengi diri dan melindungi mereka dalam mewujudkan perdamaian di Negeri Tercinta.








DAFTAR PUSTAKA

Levitan et al, 2003; Messman-Moore, Terri Patricia, 2000; Dinwiddie et al, 2000

Noviana Ino .2015. Kekerasan seksual terhadap anak: dampak dan penanganannya child sexual: Impact and
                handling. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI.

Menurut Kartika . 2010. Peran Konselor Sekolah Untuk Penanganan Kekerasan Seksual Pada Anak. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.




































BY: MUTAKHIRANI MUSTAFA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hoax Mulai Meracuni Rakyat Indonesia, Bagaimana Mengatasinya? Dizaman perkembangan tekhnologi  yang semakin pesat serta meraja lelahnya ...