IRONI
KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP
ANAK DI NEGERI INI
PENDAHULUAN
a.
Penampakan
Kekerasan Seksual Di Indonesia
Di
Indonesia kasus kekerasan seksual menjadi pemberitaan setiap saat, korbannya
bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja,
anak-anak bahkan balita. Fenomena kekerasan seksual terhadap anak semakin
sering terjadi dan menjadi global hampir di berbagai negara. Dan yang lebih
tragis lagi pelakunya adalah kebanyakan dari lingkungan keluarga atau
lingkungan sekitar anak itu berada, antara lain di dalam rumahnya sendiri,
sekolah, lembaga pendidikan, dan lingkungan sosial anak. Seperti kita ketahui
bersama Kekerasan seksual adalah salah satu kasus yang sangat mengerikan saat
ini apatah lagi kasus ini dialamai oleh anak-anak. Yang menjadi tragis karena
yang melakukan kekerasan ini yaitu orang dewasa, dimana kita ketahui bahwa
orang dewasa seharusnya melindungi, mengayomi, mendidik anak anak sebagai aset
dan generasi bangsa di masa akan datang. Kasus ini sepertinya sudah tidak terbendung
lagi di negeri ini menurut Komisioner KPAI Jasra Putra mengungkapkan, data
menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada
2015. Sementara pada 2016, KPAI mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual
terhadap anak-anak. Kemudian di 2017, tercatat sebanyak 116 kasus. Walaupun
data tersebut menunjukkan adanya penurunan disetiap tahun tapi ini tetap
menjadi tugas besar untuk kita semua. Karena boleh jadi kasus yang Nampak hanya
berkisaran diatas ratusan tetapi masih banyak kasus yang sama tidak terungkap.
Boleh jadi kasus ini menjadi rahasia dan disembunyikan bertahun-tahun oleh
pelaku dan korban sehingga tidak terdata. OLeh karena itu tugas kita sebagai
generasi muda mengungkap semua kasus yang semacam ini dan menindaklanjuti agar
tidak terulang lagi dan berharap pelaku atau fidofilia ( penyuka anak-anak)
berfikir beribu kali untuk mengulangi perbuatannya.
Peristiwa
pelecehan seksual terhadap anak TK internasional di Jakarta sungguh mengguncang
hati setiap orang yang memiliki nurani. Apalagi berita terakhir, korban
ternyata tidak hanya sekali mengalami kekerasan seksual dengan pelaku yang
lebih dari satu orang. Sekolah yang katanya berstandar internasional, dengan
bayaran 20 juta per bulan, memiliki ratusan CCTV, ternyata bukan tempat yang
aman bagi anak-anak. Kasus JIS, seolah menjadi pintu pembuka bagi terungkapnya
berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak dengan latar belakang yang
berbeda-beda. Baru-baru ini beberapa kasus serupa yang membuat hati miris
menyaksikannya yaitu kasus yang terjadi di Kecematan Sukatani Purwakarta,
pelaku warga kampong Gebang Malang , Desa cipicung kecematan Sukatani. Pelaku
ditangkap dirumahnya 1 november 2017 , penangkapan ini berdasarkan laporan dari
paman korban. Dan berdasarkan laporan pelaku adalah tetangga korban dimana
motif untuk melancarkan aksi pelaku yaitu mengimi-ngimingi sejumlah uang kepada
korban sehingga terjadilah kasus ini berulang-ulang kali sejak oktober yang
lalu. Karena korban merasa takut dan trauma sehingga perbuatan pelaku
dilaporkan oleh sang paman. Dari beberapa contoh kasus nyata yang terjadi
disekitar kita ini menjadi pembelajaran yang sangat berharga untuk kita semua
apalagi ketika kita memiliki anak, kopenakan, cucu harus senangtiasa dibawa
bimbingan dan pengawasan kita. Bukan hanya satu kasus atau bahkan dua kasus
tetapi sudah beratus-ratus kasus yang terjadi dengan kasus yang sama yaitu
kekerasan seksual pada anak. Oleh Karena itu orang tua harus waspada agar
senangtiasa mengawasi dan mendidik anak karena baik di sekolah maupun
dilingkungan keluarga apatahlagi di lingkungan umum tidak terjamin keamanannya.
Ini menandakan orang dewasa yang terjankit fidofilia semakin meningkat bahkan
bukan hanya itu mereka memiliki komunitas salah satunya yaitu komunitas Candy’s
Group dan masih banyak komunitas fidofilia yang belum terungkap oleh oknum
kopolisisan. Konten pembahasan komunitas ini berkisaran mengenai anak-anak,
video anak tanpa busana, rencana dan target korban dan rencana-rencana bejat
yang lain. Yang menakutkan lagi anggota dari komunitas ini lumayan banyak yaitu
sekitar 7.479 orang dan memiliki visi dan misi yang sama yaitu pencinta
anak-anak. Sehingga pesan yang sangat penting bagi kita sebagai orang tua yaitu
benar-benar menjaga anak kita bahkan video atau foto-fotonya agar sekiranya
tidak sering mempublikasiskan ke media social agar fidofilia tidak menjadikan
anak kita sebagai targetnya.
b.
Faktor Penyebab Utama Kekerasan Seksual
Untuk
mencari benang merah dari kasus ini terlebih dahulu kita harus membeda penyebab
terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Ada beberapa faktor
diantaranya. Pola pikir pelaku yang tidak sehat baik secara rohani maupun
jasmani, Undang-undang yang mengatur tentang kasus ini masih dianggap lemah
karena tidak memberikan efek jera terhadap pelaku, kurangnya perlindungan dari
orang tua itu sendiri, Lemahnya pendidikan sex terhadap anak, kurangnya
pendidikan agama terhadap anak dan pelaku, adanya kesempatan dan bahkan yang
pernah menjadi korban suatu saat nanti akan menjadi pelaku. Faktor diatas
hanya segelintir jika diuraikan secara
rinci maka banyak factor penyebab dari kasus ini karena berdasarkan dari
berbagai kasus yang serupa factor penybebnya berbeda-beda sehingga sulit untuk
diklasifikasikan secara rinci akan factor penyebab dari kasus ini karena siapa
saja bisa menjadi pelaku bahkan korban.Menurut Ivo noviana ( 2015) Anak menjadi
kelompok yang sangat rentan terhadap kekerasan seksual karena anak selalu
diposisikan sebagai sosok lemah atau yang tidak berdaya dan memiliki
ketergantungan yang tinggi dengan orang-orang dewasa di sekitarnya. Hal inilah
yang membuat anak tidak berdaya saat diancam untuk tidak memberitahukan apa
yang dialaminya. Hampir dari setiap kasus yang diungkap, pelakunya adalah orang
yang dekat korban. Tak sedikit pula pelakunya adalah orang yang memiliki
dominasi atas korban, seperti orang tua dan guru. Tidak ada satupun
karakteristik khusus atau tipe kepribadian yang dapat diidentifikasi dari
seorang pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Dengan kata lain, siapa pun
dapat menjadi pelaku kekerasan seksual terhadap anak atau pedofilia. Kemampuan
pelaku menguasai korban, baik dengan tipu daya maupun ancaman dan kekerasan,
menyebabkan kejahatan ini sulit dihindari. Dari seluruh kasus kekerasan seksual
pada anak baru terungkap setelah peristiwa itu terjadi, dan tak sedikit yang
berdampak fatal. Sehingga peran orang tua dan agama sangat penting untuk
membendung kasus ini.
Anak-anak
yang menjadi korban pelecehan seksual terkadang malu untuk menceritakan kasus ini
selain karena mendapat ancaman dan berupa iming-iming dari pelaku maka banyka
kasus yang serupa berulang kali dilakukan oleh pelaku bahkan ada sampai
bertahun-tahun tidak terungkap secara luas. Sehingga pihak yang sangat
dirugikan adalah anak-anak itu kerna mereka mendapatkan dampak yang sangat
buruk atas perbuatan tersebut. OLeh karena itu orang tua yang memiliki peran
penting harus mengenali ciri-ciri anak yang menjadi korban pelecehan dan
kekerasan seksual Berdasarkan psikolog forensic dari Universitas Bina
Nusantara, Jakarta, Reza Indragiri Amriel, menyatakan, pemeriksaan dubur untuk
mengenali anak-anak korban sodomi sebenarnya tidak membutuhkan prosedur khusus.
Pemeriksaanya dapat dilakukan dengan mata telanjang. Anak yang menjadi korban
sodomi memliki anus yang berbentuk corong selain itu anak sering mengeluh
kesakitan diarea intimnya, anak sering mengalami gangguan pencernaan bahkan
anak mengalami masalah psikologi yang sangat hebat seperti menarik diri dari
lingkungan pergaulan serta mendapatkan tekanan berat dan masih banyak ciri-ciri
yang lain. Jika mendapati anak-anak memiliki ciri seperti ini maka sepatutnya
kita waspada dan secepatnya mengambil tindakan yang berorientasi pada solusi
dan melakukan pendekatan kepada anak secara persuasive agar mereka dapat
terbuka mengenai kasus yang dialaminya dengan perasaan aman dan nyaman.
c.
Dampak Kekerasan Seksual Terhada Anak
Pengamat sosiologi Universitas Indonesia (UI), Devi
Rahmawati menyebutkan sedikit mengkhawatirkan mayoritas pelecehan yang dialami
anak itu bukannya hanya dilakukan remaja , orang dewasa , tetapi juga
kakek-kakek. Tindakan itu termasuk fase yang kritis atau melanggar HAM berat.
Dan yang miris lemahnya hukum di negeri ini untuk menjerat para pelaku sehingga
fidofilia meraja lelah serta semakin meningkat. Karena untuk mengungkap kasus
ini membutuhkan bukti-bukti dan pengakuan dari korban sedangkan keterangan
korban dibawah umur tidak bisa diakui dalam system perundangan di negeri ini.
Sedangkan pelaku pada umumnya memiliki wewenang yang sangat dominnan seperti
orang tua, guru, paman, tante, tetangga, serta orang-orang terdekat lainya
sehingga mereka dan korban memilih diam. Oleh karena itu untuk membuktikan
kasus ini dibutuhkan riset laboratorium untuk menyakinkan majelis di pengadilan
untuk menjatuhkan hukuman pada korban. Dampak dari kekerasan seksual yang
dialami oleh anak Dampak pelecehan seksual yang terjadi ditandai dengan adanya powerlessness,
dimana korban merasa tidak berdaya dan tersiksa ketika mengungkap peristiwa
pelecehan seksual tersebut.
Tindakan kekerasan seksual pada
anak membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional,
anak sebagai korban kekerasan seksual mengalami stress, depresi, goncangan
jiwa, adanya perasaan bersalah dan menyalahkan diri sendiri, rasa takut
berhubungan dengan orang lain, bayangan kejadian dimana anak menerima kekerasan
seksual, mimpi buruk, insomnia, ketakutan dengan hal yang berhubungan dengan
penyalahgunaan termasuk benda, bau, tempat, kunjungan dokter, masalah harga
diri, disfungsi seksual, sakit kronis, kecanduan, keinginan bunuh diri, keluhan
somatik, dan kehamilan yang tidak diinginkan. Menurut Kartika
(2010) kasus kekerasan seksual terhadap anak ini sepuluh kali lipat lebih kejam
daripada terhadap orang dewasa. Alasannya, posisi anak masih rentan, lemah, mudah
dirayu, dan dibodoh-bodohi. Selain itu, kekerasan dan pelecehan seksual bukan
sekedar perbuatan fisik seperti pemerkosaan, perabaan bagian tertentu, atau
mencium paksa. Perbuatan ini juga menggempur psikologis dan kepribadian anak.
Selain itu muncul gangguan-gangguan psikologis seperti
pasca-trauma stress disorder, kecemasan, penyakit jiwa lain termasuk gangguan
kepribadian dan gangguan identitas disosiatif, kecenderungan untuk
reviktimisasi di masa dewasa, bulimia nervosa, bahkan adanya cedera
fisik kepada anak (Levitan et al, 2003; Messman-Moore, Terri Patricia, 2000;
Dinwiddie et al, 2000). Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan,
sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina atau alat kelamin,
berisiko tertular penyakit menular seksual, luka di tubuh akibat perkosaan
dengan kekerasan, kehamilan yang tidak diinginkan dan lainnya. Sedangkan
kekerasan seksual yang dilakukan oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan
dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka
panjang, terutama dalam kasus inses orangtua. yaitu hilangnya rasa percaya
diri, gangguan mental yang berkepanjangan, masalah kesehatan, masa depan anak
itu sendiri, tauma yang berkepanjangan serta pola pikir yang tidak sehat lagi
karena boleh jadi korban suatu saat akan menjadi pelaku. Seperti kita ketahui
bersama bahwa anak adalah aset terbesar bangsa dimasa akan datang otomatis
mereka membuttuhkan bimbingan dan perlindungan agar mereka dapat mengenyam pendidikan,
berprestasi serta berkarya dalam keadaan aman tanpa tekanan dari siapapun.
Sehingga kita semua baik itu dari pihak pemerintah, KPAI, Kepolisisan, HAM,
Masyarakat umum, Tokoh Agama, Pendidik di sekolah, Orang Tua dan Generasi Muda Harus
Berperan penting Mencegah dan memberantas kasus ini secara bertahap,
terorganisir dan tuntas.
d.
Peran
Generasi Muda Dalam Menghadapi Kasus Kekerasan Seksual
Bebicara
mengenai peran kaum Muda saat ini memang tidak dapat diragukan lagi apatah lagi
sejumlah pergerakan yang dilakukan kaum muda telah terbukti dapat menuntaskan
beberapa kasus di negeri ini. Tapi sebelum melangka jauh bagaimana strategi
pergerakan kaum muda dalam mewujudkan perdamaian, mencegah kekacauan, serta
menuntaskan berbagai macam kasus di negeri ini maka Langka utama yang harus di
lakukan oleh generasi muda adalah membentengi diri dengan meningkatkan iman dan
takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa karena melalui agama, generasi akan
mendapatkan pendidikan moral dan pendidikan karakter secara tidak langsung
sehingga peluang untuk melakukan tindakan senono itu jauh. Ketika kaum muda
mampu membentengi dirinya maka keyakinan terbesar mereka mampu menjadi tauladan
dan melakukan pergerakan penuntasan berbagai kasus termasuk kasus kekerasan
seksual kepada anak. Untuk mencegah dan mengatasi kasus ini yang pertama yang
harus dilakukan mengkampanyekan pendidikan Parenting kepada orang tua, kegiatan
ini sangat penting karena kegiatan ini adalah salah satu cara memahamkan orang
tua bagaimana mendidik anak yang tepat agar membantu anak-anaknya memiliki
karakter yang kuat. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh kaum muda melalui wadah
organisasi kepemudaan dimana dalam organisasi tersebut memiliki visi misi
pergerakan yang positive untuk kemajuan negeri ini. Kenapa sehingga pendidikan
parenting sangat penting dan perluh dipahamkan kepada orang tua? Karena seperti
kita ketahui bersama pada umumnya gambaran karakter anak-anak itu berasal dari
bagaimana orang tua mereka mendidik dan membinanya, sehingga terkadang kita
menemukan anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda diantaranya ada yang
sopan, keras, terlalu penurut, manja, cengeng dan lain sebagainya. OLeh karena
itu pendidikan dari orang tua sangat memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan
karakter anak dimana mereka menghabiskan
sebagian besar waktunya di rumah. Langka selanjutnya adalah pendidikan sex
kepada anak, jadi generasi muda membentuk kelompok kecil dimana kelompok ini
berperan sebagai tempat konsultasi yang focus menangani korban kekeran
seksual.Wadah ini juga yang dipelopori kaum muda menggencarkan sosialisasi
pendidikan sex kepada anak baik itu di sekolah-sekolah maupun dilingkungan
masyarakat. Walaupun jika menyangkut mengenai sex banyak masyarakat dan orang
tua menganggap hal itu tabu dan tidak penting di komunikasikan kepada anak
padahal mereka harus mengetahui hal-hal
sensitive itu dengan memberikan penjelasan yang lebih halus dan rasional kepada
anak. Sehingga mereka paham dan tidak muda untuk melakukan hal-hal yang diluar
kendalinya. Langka ketiga sebagai peran kaum muda yaitu memberikan dukungan
serta masukan kepada pemerintah dalam penyusunan rancangaan perundang-undangan
mengenai kekerasan seksual kepada anak karena undang-undang yang mengatur hal
itu masih dianggap lemah dan tidak memberikan efek jera kepada korban. JIka
perluh memberikan masukan dan mendukung
pemerintah dalam perancangan perudang-undangan tentang hukuman seumur hidup
kepada pelaku. Mengapa harus hukuman seumur hidup ? agar sekiranya dapat memberikan
efek jera kepada pelaku dan membuat calon pelaku yang lain mengurungkan niatnya
untuk melakukan hal yang sama serta semua ini merupakan wujud kepedulian kaum
muda dan pemerintah terhadap generasi penerus bangsa yaitu melindungi,
membimbing, mendidik, dan membina sebaik-baiknya tanpa merusak masa depannya.
Langka selanjutnya yaitu gencar mengotrol pergerakan fidofilia, apalagi saat
ini mereka telah memiliki komunitas yang sangat besar sampai memiliki sejumlah
anggota dalam jumlah yang besar juga jika perluh melaporkan ke pihak yang
berwajib untuk membubarkan komunitas itu serta selain mendesak pemerintah untuk
mununtut pelaku secara dihukum pemuda
juga mengkomunikasikan agar sekiranya pelaku dapat direhabilitasi. Langka
terakhir yaitu mengontrol beberapa social media, video, link yang mengarah pada
pornografi dan pelecehan seksual agar sekiranya di blokir bekerjasama dengan
pihak keminfo dan pemerintah yang bertanggung jawab di bidang itu.
Pemuda
memiliki banyak cara, langka-langka dan sejumlah strategi untuk berkonstribusi
menuntaskan kasus ini, Karena Peran
pemuda dalam mengatasi setiap kasus termasuk kekerasan seksual terhadap anak senantiasa
berkobar dan tidak dapat dibendung apalagi jika pergerakan yang dilakukan itu
adalah hal positive. Banyak komunitas bahkan organisasi yang dipelopori oleh
kaum muda sangat memberikan pengaruh positive di kalangan masyarakat apalagi
dikalangaan mahasiswa dan generasi muda lainnya. Beberapa diantarannya ada yang
bergerak di lingkup keagamaan, kancah perpolitikan, Bidang kesehatan, Lingkup
Hak Asasi Keperempuanan serta Bidang Sosial dan Kemanusiaan termasuk Mengenai
Perdamaian. Dari banyaknya kelompok-kelompok yang di pelopori kaum muda maka
peran serta sumbangsi kaum muda dalam mewujudkan perdamaian menuntaskan kekacauan
dan keresahan masyarakat tidak diragukan lagi terutama dalam menuntaskan kasus
ini. Ada beberapa organisasi yang focus menangani mengenai kekerasan seksual
dengan berbagai cara dan program yang dilakukan karena mereka memiliki visi
misi untuk mencegah kekerasan seksual terhadap anak dan bahkan menuntaskan
kasus ini walau membutuhkan perjuangan. Program kerja yang dilakukan diataranya
menjadi jembatan antara masyarakat dan beberapa lembaga yang menangani kasus
ini seperti dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak , Sejumlah dokter sepsialis
anak dan kandungan serta beberapa psikologis anak, dengan menjadinya penyambung
diantara mereka. Maka masyarakat memiliki akses mudah untuk mendapatkan
pengetahuan dan beberapa ilmu menghdindari kasus semacam ini dari sejumlah ahli
di bidang ini. Selain itu beberapa dari mereka juga melakukan sosialisasi dan
penyuluhan ke sejumlah sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada anak
tentang pendidikan Sex. Di Sulawesi selatan sendiri beberapa organisasi
kepemudaan melakukan beberapa sosialisasi dan mengkanpanyekan ke seluruh
daerah-daerah bagaimana menjadi dan mewujudkan daerah ramah anak, program ini
diharapkan agar anak memiliki tempat berekspresi dengan aman dan tentram tanpa
ada rasa takut dan tekanan dari siapapun dimana saja dia berada tanpa ada
batasan. Harapan terbesar dan cita-cita
bangsa ini kita semua mampu mewujudkan perdamaian, kenyamanan, kerukunan serta
kesejahteraan di negeri ini terutama melindungi anak-anak yang seyogyanya
adalah generasi penerus bangsa yang memilki hak untuk di lindungi dan didik
sebaik mungkin agar menjadi generasi penerus bangsa yang berkarakter dan
menjadi sumber daya manusia yang unggul yang mampu memajukan negeri ini di masa
yang akan datang. Mari kita semua sadar dan membuka mata akan sejumlah fenomena
pelecehan anak disekitar kita dengan memulai untuk membentengi diri dan
melindungi mereka dalam mewujudkan perdamaian di Negeri Tercinta.
DAFTAR PUSTAKA
Levitan
et al, 2003; Messman-Moore, Terri Patricia, 2000; Dinwiddie et al, 2000
Noviana Ino .2015. Kekerasan seksual terhadap anak: dampak dan penanganannya child sexual: Impact
and
handling. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial RI.
Menurut Kartika
. 2010. Peran Konselor Sekolah Untuk
Penanganan Kekerasan Seksual Pada Anak. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta.
BY: MUTAKHIRANI MUSTAFA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar