Jumat, 19 Mei 2017


          PC IMM KAB. BULUKUMBA
                     MUTAKHIRANI MUSTAFA
                     ESSAY “ REKAYASA SOSIAL”
 













REKAYASA SOSIAL
Begitu banyak masalah yang terjadi lingkungan kita, dari masalah politik, ekonomi, pemdidikan  dan sosial kemasyarakat, masih banyak yang perlu di perbaiki. Memperbaiki suatu tatanan memerlukan kajian yang mendalam tetang masalah yang sedang dan akan timbul, salah satunya melakukan suatu perubahan  dalam kehidupan masyakarat baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok.
Perubahan sosial mustahil dapat dilakukan kearah yang benar jika kesalahan berfikir masih menjebak dibenak kita, contoh. Sarjana Orang barat (kafir) secara tidak objektif  senantiasa mendiskreditkan Islam sebagai agama ‘teroris’ yang kolot dan tidak dinamis. Penguasaan barat atas beberapa aspek material yang penting, seperti perekonomian, keamanan, dan pendidikan ditambah dengan terpojoknya Islam atas segala strategi Barat, membuat Islam harus kembali diperjuangkan sebagai peradaban dunia, dan harus segera dilepaskan dari cengkeraman Barat yang kini telah menghegemoni di dunia. Harus ada strategi dan langkah nyata sebagai upaya mengembalikan kejayaan Islam sebagai peradaban dunia.  Contoh lain, Mahasiswa Pasca Sarjana, jika masih dalam benak ada,  bahwa Kuliah yang diikuti hanya sekedar mendapatkan titel tanpa memperhatikan nilai intelektualitas atau kita lebih cendrung memahami secara materi dari ruh pasca
Begitu juga berbicara tentang individu dan masyarakat. Terlebih dulu yang harus kita mengerti adalah pengertian dari individu dan pengertian dari masyarakat itu sendiri. Individu adalah satu orang atau seorang manusia dan masyarakat adalah sekumpulunan individu yang hidup bersama di suatu tempat. Individu dan masyarakat tidak dapat dipisahkan karena tidak akan ada kata masyarakat jika tidak ada individu dan  individu itu sendiri adalah pelaku di dalam suatu masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang saling berinteraksi, saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada satupun individu yang dapat hidup tanpa individu lainnya. Walaupun seberapa banyak harta yang dimiliki oleh seorang individu, itu sama sekali tidak berharga jika tidak ada individu lain atau dengan kata lain tidak ada interaksi sosial yang terjadi di antara individu atau masyarakat. Maka dari itu, jika kita ingin mengkaji tentang individu maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari masalah masyarakat itu sendiri. Karena keduanya, antara individu dan masyarakat saling keterkaitan satu sama lainnya.
 A. Rekayasa Sosial
Rekayasa sosial merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial, bisa berupa kebaikan maupun keburukan dan juga bisa berupa kejujuran, bisa pula berupa kebohongan.Perubahan sosial yang dilakukan karena munculnya problem-problem sosial sebagai adanya perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dengan das sein (yang nyata). Tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial (collective action to solve social problems). Biasanya ditandai dengan perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga atau tatanan sosial yang penting.
Dibanding dengan perencanaan sosial (social planning), ia lebih luas atau lebih pragmatis, sebab sebuah rekayasa selalu mengandung perencanaan, tetapi tidak semua perencanaan diimplementasikan hingga terimplementasikan di alam nyata. Begitu pula jika dibandingkan dengan manajemen perubahan (change management), ia memiliki makna lebih pasti, sebab jika obyek dari manajemen dapat ditafsirkan sebagai perubahan dalam arti luas, sedangkan obyek dari rekayasa sosial sudah jelas, yakni perubahan sosial menuju suatu tatanan dan sistem baru sesuai dengan apa yang dikehendaki sang perekayasa.
Selain pengertian di atas, rekayasa sosial juga dapat diartikan sebagai sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat. Rekaya sosial merupakan campur tangan atau seni memanipulasi sebuah gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial, bisa berupa kebaikan maupun keburukan dan juga bisa berupa kejujuran, bisa pula berupa kebohongan.

Perubahan sosial yang dilakukan karena munculnya problem-problem sosial sebagai adanya perbedaan antara das sollen (yang seharusnya) dengan das sein (yang nyata). Tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial (collective action to solve social problems). Biasanya ditandai dengan perubahan bentuk dan fungsionalisasi kelompok, lembaga atau tatanan sosial yang penting.
Dibanding dengan perencanaan sosial (social planning), ia lebih luas atau lebih pragmatis, sebab sebuah rekayasa selalu mengandung perencanaan, tetapi tidak semua perencanaan diimplementasikan hingga terimplementasikan di alam nyata. Begitu pula jika dibandingkan dengan manajemen perubahan (change management), ia memiliki makna lebih pasti, sebab jika obyek dari manajemen dapat ditafsirkan sebagai perubahan dalam arti luas, sedangkan obyek dari rekayasa sosial sudah jelas, yakni perubahan sosial menuju suatu tatanan dan sistem baru sesuai dengan apa yang dikehendaki sang perekayasa.
Selain pengertian di atas, rekayasa sosial juga dapat diartikan sebagai sebuah proses perencanaan, pemetaan dan pelaksanaan dalam konteks perubahan struktur dan kultur sebuah basis sosial masyarakat.
  1. Sebab-Musabab Perubahan Sosial
Dalam sejarah, ada banyak teori mengenai sebab  musabab terjadinya perubahan sosial, ada yang berpendapat bahwa masyarakat berubah karna beberapa hal :
Pertama, Ideas; pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view) dan nilai-nilai (values), seperti yang Max Weber ungkapkan bahwa betapa berpengaruhnya ide terhadap suatu masyarakat.
Kedua, Great individuals (tokoh-tokoh besar); perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama dengan simpatisan itu, sanga pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat (great individuals as historical forces).
Ketiga, Social Movement (gerakan sosial); sebuah gerakan sosial yang dipelopori oleh sebuah komunitas atau institusi semacam LSM/NGO, Ormas, OKP dan sebagainya.
Sumber-sumber perubahan juga bisa disebabkan oleh; (1) Kemiskinan (poverty) sebagai problem yang melibatkan banyak orang, (2) Kejahatan (crimes) yang biasanya berjenjang dari blue collar crimes sampai white collar crimes, dan (3) Pertikaian atau konflik (conflict), konflik sosial bisa bersifat etnis, rasial, sektarian, ideologis, dan sebagainya.
2.      Bentuk dan Teori Perubahan Sosial
Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial: evolusi, revolusi dan reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang memakan waktu lama. Proses perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di tingkat elite saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit penguasa. Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim penguasa pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.
Perubahan model ini, biasanya kurang populer di dunia Ketiga (the Third World), yang mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau terkenal untuk evolusi, karena semua ditentukan dalam kendali penguasa. Elite penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam perumusan persoalan yang ada dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.
Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di kalangan gerakan sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai prasyarat dari proses yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang dilakukan. Hasil dari cara ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada perubahan politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.
Revolusi Islam sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah pernah diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini (1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser (1952) dan beberapa negara Arab lainnya, baik memenuhi standar teori Barat maupun tidak.
Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang gradual dan parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Reformasi merupakan bentuk kompromi antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal yang dianggap menyimpang), telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak zaman Renaissance abad ke-15 Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther King, yang menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas Hobbes tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga pemikiran demokrasi modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas pemimpin untuk menjalankan demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan ditangan rakyat, namun juga desakralisasi pemimpin yang dibatasi aturan konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki hak atas mandat pemimpinnya.
Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku korup dan manipulatif, sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti dari rakyat untuk melakukan perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan dengan Up-rising in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan penggulingan Soeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi yang berdampak pada penyelenggaraan negara.
3.      Strategi-Strategi Perubahan Sosial
Perubahan sosial dapat dilakukan  dengan Strategi Normative-Reeducative (normatif-reedukatif); Normative merupakan kata sifat dari norm yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial), sementara reeducation dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya perlahan dan bertahap.
Cara atau taktik yang digunakan adalah mendidik, yakni bukan saja mengubah perilaku yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilai sasaran perubahan.
Strategi perubahan sosial yang lain Persuasive Strategy (strategi persuasif); Strategi ini dijalankan melalui pembentukan opini dan pandangan masyarakat, biasanya menggunakan media massa dan propaganda.Cara atau taktik yang digunakan adalah membujuk, yakni berusaha menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai agen perubahan. Bahasa merupakan media utamanya.
Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan. Media itu dibagi dua; (1) media pengaruh (media komunikasi yang digunakan pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan), dan (2) media respon (media yang digunakan oleh sasaran perubahan dalam menggulingkan tanggapan mereka), keduanya dapat menggunakan media massa atau saluran-saluran interpersonal.
Dan yang terakhir adalag People’s power (revolusi); Merupakan bagian dari power strategy (strategi perubahan sosial dengan kekuasaan), revolusi ini merupakan puncak dari semua bentuk perubahan sosial, karena ia menyentuh segenap sudut dan dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, dan mengundang gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya.
Cara atau taktik yang digunakan berbentuk paksaan (memaksa) dengan kekuasaan, yakni upaya menimbulkan kepasrahan behavoral atau kerjasama pada sasaran perubahan melalui penggunaan sanksi yang dikendalikan agen.
B.     Sebab-Musabab Perubahan Sosial
Ideas; pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (world view) dan nilai-nilai (values), seperti yang Max Weber ungkapkan bahwa betapa berpengaruhnya ide terhadap suatu masyrakat.Great individuals (tokoh-tokoh besar); perubahan sosial terjadi karena munculnya seorang tokoh atau pahlawan yang dapat menarik simpati dari para pengikutnya yang setia, kemudian bersama-sama dengan simpatisan itu, sanga pahlawan melancarkan gerakan untuk mengubah masyarakat (great individuals as historical forces).
Social Movement (gerakan sosial); sebuah gerakan sosial yang dipelopori oleh sebuah komunitas atau institusi semacam LSM/NGO, Ormas, OKP dan sebagainya.Sumber-sumber perubahan juga bisa disebabkan oleh; (1) Kemiskinan (poverty) sebagai problem yang melibatkan banyak orang, (2) Kejahatan (crimes) yang biasanya berjenjang dari blue collar crimes sampai white collar crimes, dan (3) Pertikaian atau konflik (conflict), konflik sosial bisa bersifat etnis, rasial, sektarian, ideologis, dan sebagainya.
C.     Bentuk dan Teori Perubahan Sosial
Terdapat tiga bentuk perubahan yang disepakati kalangan ilmuwan sosial: evolusi, revolusi dan reformasi. Evolusi dipahami sebagai bentuk perubahan yang memakan waktu lama. Proses perubahan seperti ini cenderung hanya melingkar di tingkat elite saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit penguasa. Konsekuensi logis dari perubahan model ini akan menempatkan rezim penguasa pada keleluasaan menentukan agenda-agenda perubahan yang ada berdasar “aman atau tidak” bagi kekuasaannya.
Perubahan model ini, biasanya kurang populer di Dunia Ketiga (the Third World), yang mayoritas adalah berpenduduk muslim, karena perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Tidak perlu tokoh yang kharismatik atau terkenal untuk evolusi, karena semua ditentukan dalam kendali penguasa. Elite penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam perumusan persoalan yang ada dan itu bias kepentingan. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal, pressure (tekanan), itupun jika ada kebebasan.
Bentuk kedua adalah revolusi. Perubahan secara cepat ini cukup populer di kalangan gerakan sosial atau aktivis pembebasan. Dalam prosesnya, cara ini cukup beresiko. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai prasyarat dari proses yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang dilakukan. Hasil dari cara ini dapat dilihat dengan cepat, karena secara umum bertujuan pada perubahan politik, khususnya perubahan tampuk kekuasaan.
Revolusi Islam sebagai metode perubahan adalah sebuah tawaran yang telah pernah diaplikasikan dalam lapangan kenegaraan di Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini (1977), Mesir oleh Ikhwanul Muslimin bersama Nasser (1952) dan beberapa negara Arab lainnya, baik memenuhi standar teori Barat maupun tidak.
Sedangkan reformasi didefinisikan sebagai sebuah bentuk perubahan yang gradual dan parsial. Tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat. Reformasi merupakan bentuk kompromi antara evolusi dan revolusi. Reformasi atau pembaharuan (perubahan yang signifikan atas hal yang dianggap menyimpang), telah berlangsung di berbagai belahan dunia sejak zaman Renaissance abad ke-15 Masehi. Berawal di Jerman dengan pemikiran Martin Luther King, yang menggugat penyimpangan ajaran Kristiani, berlanjut pada pemikiran Thomas Hobbes tentang State of Nature-nya di Inggris, John Locke, Rousseau hingga pemikiran demokrasi modern-nya Robert A Dahl, berintikan pentingnya moralitas pemimpin untuk menjalankan demokrasi. Demokrasi tidak saja berarti kekuasaan ditangan rakyat, namun juga desakralisasi pemimpin yang dibatasi aturan konstitusi dan diawasi oleh lembaga lain dimana rakyat memiliki hak atas mandat pemimpinnya.
Gerakan reformasi acapkali terjadi, manakala seorang pemimpin berlaku korup dan manipulatif, sehingga diperlukan langkah-langkah politik yang berarti dari rakyat untuk melakukan perbaikan. Atau, bila rakyat merasakan adanya kekurangan dalam sistem konstitusi yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan kedua alasan inilah, apa yang terjadi di Korea Selatan dengan Up-rising in Kwangju tahun 1986, di Cina dengan tragedi Tiananmen 1989, dan penggulingan Soeharto di Indonesia tahun 1998, merupakan gerakan reformasi yang berdampak pada penyelenggaraan negara.
D.    Strategi-Strategi Perubahan Sosial
Strategi Normative-Reeducative (normatif-reedukatif); Normative merupakan kata sifat dari norm yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat (norma sosial), sementara reeducation dimaknai sebagai pendidikan ulang untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Sifat strategi perubahannya perlahan dan bertahap.
Cara atau taktik yang digunakan adalah mendidik, yakni bukan saja mengubah perilaku yang tampak melainkan juga mengubah keyakinan dan nilai sasaran perubahan.Persuasive Strategy (strategi persuasif); Strategi ini dijalankan melalui pembentukan opini dan pandangan masyarakat, biasanya menggunakan media massa dan propaganda.Cara atau taktik yang digunakan adalah membujuk, yakni berusaha menimbulkan perubahan perilaku yang dikehendaki para sasaran perubahan dengan mengidentifikasikan objek sosial pada kepercayaan atau nilai agen perubahan. Bahasa merupakan media utamanya.
Efektifitas teori persuasi sangat bergantung pada media yang dipergunakan. Media itu dibagi dua; (1) media pengaruh (media komunikasi yang digunakan pelaku perubahan untuk mencegah sasaran perubahan), dan (2) media respon (media yang digunakan oleh sasaran perubahan dalam menggulingkan tanggapan mereka), keduanya dapat menggunakan media massa atau saluran-saluran interpersonal.People’s power (revolusi); Merupakan bagian dari power strategy (strategi perubahan sosial dengan kekuasaan), revolusi ini merupakan puncak dari semua bentuk perubahan sosial, karena ia menyentuh segenap sudut dan dimensi sosial secara radikal, massal, cepat, dan mengundang gejolak intelektual dan emosional dari semua orang yang terlibat di dalamnya.
Cara atau taktik yang digunakan berbentuk paksaan (memaksa) dengan kekuasaan, yakni upaya menimbulkan kepasrahan behavoral atau kerjasama pada sasaran perubahan melalui penggunaan sanksi yang dikendalikan agen.Strategi Perubahan Sosial Islam; cepat atau lambat bukan sebuah soal dalam cara pandang Islam. Dengan meletakkan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia (mardhâtillah), Islam telah dilengkapi dengan standar moral yang tertinggi. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi perkembangan moral dan etik manusia dalam komunitas kolektifnya. Secara garis besar, tahapan perubahan sosial masyarakat Islam adalah sebagai berikut:
1.      mewujudkan pribadi muslim yang diridhai Allah (bina’ al-fardli al-muslim), yaitu pribadi muslim yang paripurna, yang penuh moralitas iman, Islam, taqwa dan ihsan. [al-Baqarah]
2.      mewujudkan rumah tangga dan keluarga Islami (bina’ al-usrah al-islamiyah) yang diridhai Allah, yaitu rumah tangga yang sakinah diliputi mawaddah serta rahmah anugerah ilahi. [ar-Ruum: 21]
3.      mewujudkan masyarakat dan lingkungan islami (bina’ al-ijtima’i al-islamiyyah) yang marhamah, yaitu lingkungan yang kondusif dan layak menerima berkah Allah karena warganya yang beriman dan bertaqwa. [al-A’raf: 96]
4.      mewujudkan negara (bina’ daulat al-islamiyyah) yang diridhai Allah yaitu baldat yang thayyibah dan diliputi maghfirah Allah. [Saba’: 15]
5.      mewujudkan peradaban dunia yang diridhai Allah dengan kepemimpinan Islam atas alam (ustadziyat al-‘alam), yaitu dunia yang hasanah dan berkesinambungan dengan akhirat yang hasanah. [al-Baqarah: 201].
 E.     Konsep Kejayaan dan Aktor dibalik Kejayaan serta Proses yang dilalui untuk Membangun Kembali Islam
Konsep kejayaan harus dibangun secara integral, baik dari aspek internal maupun eksternal. Secara internal dan dari perspektif umat Islam, konsep kejayaan tidaklah jauh berbeda dengan konsep kebangkitan umat. Yusuf Qardhawi (2003) mengungkapkan sepuluh langkah menuju kematangan kebangkitan Islam, yaitu :
1.      Dari format dan simbol menuju hakikat dan substansi
2.      Dari retorika dan perdebatan menuju penerapan dan aksi
3.      Dari sikap sentimentil dan emosional menuju sikap rasional dan ilmiah
4.      Dari orientasi masalah cabang dan sekunder menuju masalah pokok dan primer
5.      Dari menyulitkan dan ancaman menuju kemudahan dan kabar gembira
6.      Dari kejumudan dan taklid menuju ijtihad dan pembaharuan
7.      Dari fanatisme dan eksklusifisme menuju toleransi dan inklusifisme
8.      Dari sikap berlebihan dan meremehkan menuju moderatisme
9.      Dari kekerasan dan kebencian menuju kelemahlembutan dan rahmat
10.  Dari ikhtilaf dan perpecahan menuju persatuan dan solidaritas
Sedangkan untuk menjawab tantangan umat dari segi eksternal, terdapat beberapa langkah, yaitu :
1.      Membebaskan diri dari depedensi Barat dan westernisasi
Bencana paling nyata akibat westernisasi adalah adanya generasi yang mengalami proses pembaratan, yang kehilangan jati diri, legitimasi, dan loyalitas sebagai bangsa Timur yang sejak lama dimiliki. Westernisasi yang bertujuan untuk melakukan sekulerisasi negara dan masyarakat harus mendapatkan perlawanan penuh dari umat Islam, dengan cara bangkit dan aktif berjuang mengembalikan jati diri masyarakat muslim sekaligus menggagalkan propaganda Barat.
2.      Penguasaan media
Pentingnya media sebagai pembentuk opini publik membuat sarana ini harus dikuasai oleh umat Islam, untuk membuktikan fakta-fakta dan kebenaran informasi tentang Islam. Sehingga, umat Islam tidak lagi terpojok oleh berita negatif yang sering diekspos media Barat selama ini.
3.      Revitalisasi dan pembaharuan
Munculnya gerakan revitalisasi atau pembaharuan merupakan titik cerah yang memunculkan babak baru bagi kehidupan Islami, yaitu keyakinan bahwa Islam akan kembali memegang kendali kehidupan dan menggelisahkan kekuatan musuh. Suatu arus gerakan yang kemudian dinamakan "Kebangkitan Islam".
Revitalisasi akan berkorelasi positif dengan teori perubahan. Menurut Chin et al., (1989), terdapat beberapa strategi perubahan, yaitu strategi empiris-nasional, strategi pengubahan normatif-reedukatif, pendekatan kekuasaan-paksaan. Strategi empiris-nasional meliputi  reset dasar penyebaran pengetahuan melalui pendidikan umum, seleksi dan pergantian personal dalam sistem, analisis sistem, penerapan sistem, serta reorganisasi perseptual dan konseptual.
4.      Menghadapi Normalisasi dan Destruksi Barat
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam upaya menghadapi normalisasi dan destruksi Barat (Qardhawi, 2001) antara lain:
a.       Budaya perlawanan, bukan eksklusivitas
Perlawanan budaya yang dilakukan tidak hanya dengan cara konservatif dan ekslusif dengan cara menarik diri dan tenggelam dalam konflik golongan. Namur harus mulai dilakukan dengan cara-cara riil dan aplikatif.
b.      Budaya persatuan yang variatif
Yaitu budaya yang berusaha mengembangkan unsur-unsur persatuan yang ada dan menguatkan tali perekat dalam masyarakat, karena adanya pluralitas dalam kebudayaan.
c.       Budaya interaksi dan kebersamaan, bukan percerai-beraian
d.      Mengokohkan budaya umat
5.      Unifikasi
Seluruh kekuatan umat Islam harus disatukan dalam kerangka unifikasi, rekonsiliasi, dan penyatuan barisan, agar terjalin ikatan akidah yang begitu kuat. Salah satu unifikasi yang harus dilakukan adalah unifikasi kekuatan umat Islam.
Konsep-konsep tersebut tidak akan berguna jika tidak ada aplikasi nyata dari aktor kebangkitan, yaitu umat Islam secara umum dan pemuda Islam secara khusus. Perlu disiapkan generasi Rabbaniyyin dari kaum muda, yang nantinya akan menempati posisi strategis, menjadi pemimpin dan penentu kebijakan umat.Proses yang dilalui oleh aktor perubahan adalah sesuai dengan proses menuju kemenangan Islam. Dimulai dari pengenalan dan dakwah Islam, pembentukan aktor-aktor perubahan yang siap mengemban amanah, kemudian amal produktif. Proses yang dilalui akan mengikuti sunnah gradual, sehingga memerlukan kesabaran tingkat tinggi untuk melakukan setiap tahapan (Ash Shalabi, 2006).
Hal yang sama diungkapkan oleh Hasan Al Banna (Al Ghazali, 2001) tentang langkah-langkah tahapan dakwah menuju kebangkitan Islam, yaitu:
1.      Tahap propaganda dan pengenalan
2.      Tahap penyiapan dan pembinaan
3.      Tahap kerja dan pelaksanaan
4.      Tahapan negara
5.      Tahapan penyiapan khilafah
6.      Tahapan peneguhan eksistensi negara atau khilafah
7.      Tahapan kepemimpinan dan perwujudan keteladanan.
Di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat beberapa pola atau cara penyelesaian konflik yang berujung pada terciptanya konflik yang lain, entah itu konflik psikologial , emosional maupun kontak fisik antar sesama individu ataupun kelompok masyarakat.Hal inilah yang menjadi objek kajian dari rekayasa sosial ini dimana campur tangan sebuah gerakan ilmiah lebih dimaksudkan untuk menggeser cara pandang masyarakat kearah yang ‘benar’ demi tercapainya tujuan tertentu. Masyarakat pada umumnya mempercayai sesuatu apabila mayoritas persepsi yang berkembangkan merujuk pada pembenaran hal tersebut sehingga kelompok masyarakat intelektual sering kali terlibat dalam perang cara pandang maupun gagasan yang terkesan ‘ego’ demi sebuah pengakuan atas cara berpikir dari masing-masing pihak. Disinilah peran rekayasa sosial dalam merubah gaya bermasyarakat seperti ini.Adanya gagasan atas perubahan sosial kearah yang lebih baik dengan cara yang benar dan lebih realistis dapat mendorong keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam misi atas perubahan sosial tersebut. Pada dasarnya pola-pola kontrol sosial tidak dimaksudkan untuk mengendalikan masyarakat tetapi lebih kepada cara untuk membuka ruang bagi masyarakat untuk beraktualisasi sehingga dapat terlihat jelas peran dari masyarakat tersebut dalam proses perubahan sosial. Lawrence M. Friedman seorang adalah yang pertama mengemukakan fungsi hukum sebagai rekayasa sosial yang kemudian dijadikan dasar atas kontrol sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. Seperti halnya Lawrence , William Dahl seorang penulis asal Austria juga pernah menyebut perubahan sosial dengan sebutan “changed of law” atau perubahan hukum/aturan.Perubahan yang dimaksudkan disini adalah efek dari perubahan sosial yang dihasilkan dari rekayasa sosial itu sendiri.Hukum merupakan alat utama dari hasil rekayasa sosial yang kemudian dijadikan dasar terbentuknya suatu masyarakat yang sejahtera karena aturan-aturan yang diterapkan ditujukan untuk terciptanya sebuah keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.
Politik dan Rekayasa sosial adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan meskipun pada dasarnya keduanya hampir tidak berbeda satu sama lainnya karena keduanya bertujuan mengorganisir masyarakat untuk tujuan tertentu , hanya saja rekayasa sosial punya ruang lingkup yang lebih luas serta tidak terbatas pada permasalahan kekuasan semata.Dalam dinamika politik , rekayasa sosial kerap digunakan untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Politik mampu memicu adanya perubahan sosial apabila masyarakat ikut berpartisipasi sebagai eksekutor dari perubahan itu tetapi tidak hanya pemerintah , masyarakat pada pada umumnya mempunyai pola yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam menginpresentasekan jalan kepada perubahan sosial ini.sehingga keseragaman pemikiran akan hal ini perlu dilakukan agar perubahan sosial ini dapat lebih mudah direalisasikan. Dalam dinamika politik , William Dahl menganggap bahwa pemahaman terhadap perubahan sosial dapat lebih mudah apabila membagi masyarakat menjadi dua kelompok , yaitu masyarakat yang satu sebagai pihak konservatif dan lainnya sebagai pihak yang radikal.Perbedaan pandangan dapat dilihat dari konfrontasi dua kubu ini sehingga permasalahan paling substansif dari konflik inilah yang kemudian dijadikan referensi atas perubahan sosial tersebut. Dahl mengambil beberapa contoh negara yang pemimpinnya menggunakan strategi ‘battle ideology’ atau perang ideologi lewat jalur konsolidasi “bawah tanah” untuk menciptakan konflik , cara seperti ini digunakan oleh beberapa pesohor seperti Khomeini ketika Revolusi Iran , dan Fidel Castro serta Che Guevara pada Revolusi Kuba.Menurut Dahl perencanaan konflik melalui doktrin progresif kepada masyarakat merupakan suatu syarat utama terciptanya perubahan sosial secara cepat , konflik harus ada tetapi jalan keluarnya juga telah dipersiapkan dan itulah titik utama dari sasaran perubahan sosial.Doktrinasi yang dilakukan bukan semata-mata timbul akibat kesenjangan antara pemimpin dan masyarakat tetapi tuntutan atas perubahan sistem yang tidak stabil dan tidak mampu meng-integrasi-kan masyarakat sehingga hasil dari konflik ini tidak hanya berujung pada perubahan sistem politik (Reformasi) tetapi juga perubahan yang lebih luas dan dalam (Revolusi). Hal serupa pada dasarnya pernah terjadi juga saat Nazi melakukan upaya pembinasaan kaum yahudi pada perang dunia II.Tetapi pada dasarnya tujuan Nazi bukan semata-mata melenyapkan kaum yahudi dari Jerman tetapi semua penentang Nazi meskipun polemik yang kemudian berkembang adalah upaya genocide yang dilakukan Nazi , hal inilah yang kemudian menjadi subjek dari rekayasa sosial dimana hasil dari hal itu adalah peperangan yang pada sadarnya sebagai jalan kebebasan berpolitik bagi seluruh kaum semit di dunia.
Rekaya sosial merupakan alat yang mampu mengintegrasikan masyarakat , hal ini dikarenakan adanya tujuan yaitu perubahan ataupun mengendalikan stagnasi akibat keadaan yang telah memenui syarat sebagai masyarakat yang sejahtera. Sebagaimana kita tahu dalam sejarah indonesia bahwa kemerdekaan diraih atas keinginan melepaskan diri dari penjajahan , keinginan yang timbul disebabkan oleh keadaan yang sama dan perasaan sepenanggunan pun timbul karena hal tersebut. Tetapi tentu pemaparan atas hal ini lebih kompleks apabila kita coba mengkaji makna dari sistem yang telah dibentuk pasca kemedekaan. Ir.Soekarno maupun Moh.Hatta sadar betul bahwa mengincar kemenangan lewat jalur peperangan tidak mampu membawa indonesia pada gerbang kemerdekaan selain adanya korban jiwa dan harta benda peperangan bisa saja berlangsung bertahun-tahun lamanya tanpa ada solusi atas permasalahan tersebut , oleh karena itu perlu adanya konversi lewat jalur persuasif yaitu diplomasi. Tidak dapat disangkal bahwa apabila perang berkepanjangan tanpa adanya diplomasi maka kemerdekaan tidaklah dapat tercapai , meskipun bila nantinya indonesia mampu memerdekakan diri lewat hal ini maka hanya sebagian besar pulau jawalah yang akan disebut ‘indonesia’. konsolidasi untuk merampungkan seluruh pulau-pulau di nusantara menjadi satu kesatuan adalah senjata utama untuk meraih kemerdekaan secara de jure maupun de facto. Disinilah rekayasa sosial digunakan , beberapa wacana atas kemerdekaan digunakan untuk mengintegrasikan masyarakat.Salah satu contoh adalah paham nasionalisme hingga patriotik yang menjadi landasan suatu perjuangan atas kemerdekaan yang diimpi-impikan.Bentuk-bentuk lainnya bisa kita temukan dalam beberapa slogan kenegaraan maupun dasar ideologi kita , pancasila. Ir.Soekarno menyadari hal ini sebagai proses menuju perubahan , tetapi proses ini tidaklah mudah untuk dijalani . Maka perlu adanya kesepahaman dari masing-masing delegasi atas apa yang disebut kemerdekaan.Sebagai alat utama para pelopor kemerdekaan mengambil bahasa melayu dan mengkonversinya menjadi bahasa nasional sehingga penggunaan bahasa ini dilegalkan sebelum indonesia merdeka. Peran kaum intelektual pada detik-detik kemerdekaan pun tidak lepas dari proses perubahan sosial yang telah direncanakan jauh sebelumnya.Konsep perubahan sosial banyak diwarnai dengan isu-isu sensitif seperti pendidikan hingga sandang pangan yang memadai sehinga Keinginan kemerdekaan tidak hanya timbul akibat adanya penjajahan tetapi pula karena keinginan untuk bersatu dalam satu payung.Meskipun isu politik pada saat itu tidak digemborkan secara gamblang namun pada dasarnya tujuan utama proses perubahan sosial di indonesia pada saat itu adalah perubahan sistem politik dan pengambil alihan kekuasaan dari pemerintahaan kolonial kekaisaran jepang. Disisi lain , rekaya sosial kerap menjadi alat utama untuk mengembangkan isu-isu lainnya.Seperti tindakan preventif terhadap ancaman seperti yang terjadi ketika perang dunia I dan II dimana pemerintahan blok Timur menganggap adanya expansi politik besar-besaran yang dilakukan pihak Amerika dan hal ini blok barat sehingga mencari celah peperangan , meskipun isu adanya westernisasi ini tidak diakui pada sidang PBB di jenewa namun bila menilik dari masing-masing pihak maka yang akan ditemukan adalah keragaman yang satu dengan yang lain , yaitu keragaman ideologi.


GERAKAN 1000 MASTER DAN DOKTOR UNTUK IMM BERKEMAJUAN (LG100MD)
(MUTAKHIRANI MUSTAFA)
        Sudah saatnya kita sebagai kader-kader IMM memikirkan bagaimana kualitas kapasitas yang menjadi nilai plus yang harus dimiliki oleh kader-kader ikatan mahasiswa muhammadiyah. Karena sulit dipungkiri bahwa mayoritas kader yang kita lahirkan adalah kader-kader yang memiliki orientasi hampir sama yaitu menjadi politisi atau ustads dan ini bukan hanya terjadi di tataran komisariat tapi juga di cabang , DPD dan DPP. Menurut pandangan saya ini sebuah masalah yang perluh ditemukan solusi untuk hal itu. Pertama yang perluh kita lakukan adalah membuka cakrawala berfikir seluruh kader bahwa sesungguhnya IMM itu tidak hanya berorientasi pada tataran politisi dan ustadz sAja tapi ternyata IMM itu juga harus mencoba berfikir untuk memasuki berbagai bidang seperti bidang sosial budaya, politik,ekonomi, pendidikan, kesehatan dll. Agar IMM kedepan mampu menjawab tantangan zaman untuk memasuki dunia yang lebih modern lgi tapi tetap memiliki nilai-nilai spiritual yang kemudian senantiasa mengaktualisasikan dan di kampanyekan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi realita yang terjadi bahwa banyak kader yang kemudian tidak memiliki fokus orientasi untuk pengembangan potensinya yang dimiliki tidak masalah ketika mendalami dari segi spiritual karena itu adalah kewajiban menurut kacamata saya sebagai kader IMM karena kekuatan kita sebagai kader ada pada rana itu yang pastinya itu untuk pribadi sebagai pemgembangan diri dan untuk mencapai tujuan Muhammadiyah yaitu untuk mewujudkan masyarakat islam yang sebenar-benarnya. OLeh karena itu pemetaan kader sangat penting yang memiliki berbagai macam orientasi, setelah kita petakan dan kita mampu membaca orientasi yang dimiliki mereka atau potensi yang harus mereka dalami maka dari hal itu kita memulai mendorong mereka untuk fokus mendalami bakat dan potensi yang mereka miliki dan tak terlepas penanaman nilai-nilai ideology Muhammadiyah itu yang terpenting . Tugas kita memberikan dukungan dengan langkah yaitu gerakan 1000 master dan doctor untuk imm berkemajuan. Dan tentunya ini sebagai motivsi ntuk mereka. Dan saya berfikir untuk menjawantakan gerakan ini maka kita bentuk lembaga yang mewadai gerakan ini  Dan saya menamakannya “LG1000MD”. Ini kmudian rancangan yang saya coba fikirkan untuk memberdayakan kader-kader yang berkualitas.
Kenapa kemudian gerakan 1000 master dan dokter harus di perjuangkan untuk dibentuk lembaganya. Dan kenapa kemudian harus 1000 angka seribu ini fleksibel bisa lebih atau bahkan dibawa itu disini angka tersebut sebagai kata khiasan yang berkonotasi indah agar banyak kemudian kader-kader otensial optimis dengan lembaga tersebut Ada banyak hal yang melatar belakangi hal ini terutama kita ingin melihat IMM kedepan lebih jaya. Karena selama ni dari dulu sapai ekarang bahwa keluaran IMM itu setelah keluar dari structural kepemimpinan atau lain kata telah menjadi alumni tentunya hanya sedikit kemudian yang dapat berkiprah dikanca Nasional apalagi di tataran provinsi dan daerah  karena tidak adanya pemberdayaan ader yang jelas lain kata tidak adanya lembaga resmi yang mewadahi ini. Dan yang paling ironis saat ini bahwa pimpinan-pimpinan imm yang telah memberikan konstribusi yang lebih pada ikatan bahkan ketua cabang atau ketua DPD yang diharapkan mpu brkonstribusi lebih jauh ntuk bangsa ni dan lebih khususnya utuk persyarikatan dan keberlangsungan IMM. Bahkan mereka-mereka kemudian pulang kampong masing-masing dan menjadi masyrakat biasa dan tidak mampu berbuat apa apa dan kendala yang paling sentral yaitu persoalan finansial. JIka kita melihat secara asat ata bahwasannya persyarikatan Muhammadiyah memiliki amal usaha dai egi kapasitas itu tak iragukan lgi tapi kenyataan tidaka danya pemberdayaan kader untuk membina SDM atau sumber daya manusia yang tentunya mampu bersaing.OLeh karena itu ada kemudian inisiatif  membentuk lebaga ini yaitu “LG1000MD”.
 Lembaga LG1000MD memiliki visi dan misi yang jelas dan tentunya tidak berbeda jauh dengan tujuan IMM. Yaitu Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing yang mampu meperlihatkan taringnya di masa Masyrakat Ekonomi Asean saat ini agar sekiranya juga tidak menjadi penonton di negeri sendiri dan mampu mempertahankan budaya   yang di miliki indonesia dengan kekayaan suku dan ras  yang berbeda yang tetap dilestarikan walai budaya barat atau budaya asing masuk. Nah yang perluh saya sampaikan bahwa lembaga ini tentunya adalah lelmbaga semi otonom IMM yang tentunya diakui oleh pemerintah dan diharapkan juga ada kerjasanma dengan dikti atau menteri pendidikan serta diharapkan lembaga ini juga sebaga wadah untuk kakanda cendikiawan yang telah sukses dan ingin membantu kader-kader potensial untuk melanjutkan studynya yang bisa menjadi donator tetap di lembaga tersebut. Bukan hanya itu lembaga ini juga senantiasa melakukan pembinaan kader dengan fokus TOFL atau IELS agar sekiranya kader—kader memiliki wadah untuk itu, karena kendala terbesar juga bagi kader  mereka kemudian berkeinginan belajar TOEFL dan IELS tapi biaya untuk itu sangat mahal oleha karena itu kami memcoba bahwa lembaga itu juga mewadai kader-kader potensial dalam hal itu dengan biaya yang lebih terjangkau atau bahkan tidak menggunakan biaya sama sekali. Karena salah satu kelemahan kader adalah bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa arab dimana kita ketahui bersama bahwasannya dua bahasa ini adalah bahasa Internasional yang wajib di ketahui bahkan dikuasai agar gerakan IMM berkemajuan dalam menghadapi MEA dan Arus globalisasi itu mampu kemudian dihadapi dan bahkan bersaing didalamnya dengan SDM-SDM dari luar tentunya.
Untuk membentuk lembaga ini pertama-tama kita rekomendasikan Lembaga LG1000MD ke Dewan Pimpinan Pusat yang mampu kemudian menembus menteri pendidikan dan Dikti agar sekiranya lembaga ini kemudian diresmikan secara resmi. Setelah lembaga ini kemudian diakui oleh pemerintah ini adalah langka awal dan diharapkan juga pemerinta memberdayakan lembaga ini dan salah satu keinggulannya ketika telah mendapatkan rekomendasi dari pemerintah tentunya banyak institusi atau lembaga pemberi beasiswa ingin bekerjasama dengan lembaga yang kemudian dibentuk. Lembaga ini cukup satu yaitu berada di pusat dan DPD , Cabang dan tataran komisariat ketikan memenuhi kualifikasi maka direkomendasikanlah kelembaga itu untuk kemudian  mendapatkan beasiswa baik itu megister maupun Doktor. Dan dalam kerangka rancangan yang saya pikirkan bahwa suatu ketika juga bahwa ada kemudian kader yang berhasil mendapatkan beasiswa keluar negeri dan disanalah mereka-mereka melakukan kiprah dakwah sebagai bentuk menerbangkan semboyang IMM Berkemajuan untuk bangsa dan kanca internasional.
Dan kedepannya ketiaka program ini kemudian mampu di golkan bersama maka diharapkan setiap tahun itu IMM kemudian melahirkan master dan doctor yang handal dibidangnya bahkan sampai mejadi professor. Sehingga kegelisahan ayahanda di pimpinan Muhammadiyah itu sendirri sekiranya mereka berpresepsi bahwasannya kader – kader IMM itu tidak mampu menuntaskan akademiknya dengan baik atau tak mampu mencadi cendikiawan – cendikiawan nasional atau local dapat kemudian ditepis. Dengan langkah-langkah konkrit yang dilakukan hal ini sangat membanggakan karena selama ini kita ketahui bersama bahwasannya di mind set berfikir orang awam bahwa kader kader organisasi atau kader – kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah kemudian hanya mengurusi organisasinya sehingga dampaknya lambat selesai atau menuntaskan akademiknta. Sebenarnya presepsi ini mulai ditepi dengan berkurangnya kader-kader yang lambat selesai lain kata bahwa sudah mampu menyelesaikan studiynya tepat waktu bahkan yang lebih membanggakan lagi banyak kemudian kader – kader pimpinan IMM menjadi mahasiswa tauladan atau berprestasi di masing-masing perguruan tingginya atau universitasnya hal ini sangat membanggakan untuk IMM.
Suatu pengharapan yang besar juga bahwa ketika program ini telah membuahkan hasil diharapkan kader-kader berpotensial tersebut memiliki konstribusi besar untuk kemajuan bangsa ini dan perkembangan persyarikatan Muhammadiyah terutama  untuk Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Saya kemudian optimis merancang atau mencoba mengusulkan hal ini karena kebutuhan juga dan sebuah keharusan. Sudah saatnya kita bergerak kea rah yang jelas dan konkrit. Karena melihat kondisi dan realitas yang dalam pembacaan ini bbahwa hal ini sangat disayangkan. Karena salah satu cara untuk mengembangkan Muhammadiyah dan IMM yaitu pembinaan sumber daya manusianya yang paling utama yang perluh dicanamkan. Karena bagaimana mungkin kita mampu mencapai tujuan Muhammadiyah begitu capat walai saat ini lagi berproses pencapaiannya jikalau sumber daya manusia kader yang dimiliki persyarikatan tidak memadai atau tidak memiliki kualitas dan kapasitas dalam berbagai hal.
Mengapa kemudian gerakan yang saya lebih titik beratkan itu ke dunia pendidikan karena itulah salah satu gerakan yang paling strategis untuk melahirkan sumber daya manusia yang memiliki daya saing yang memadai. Dan Kita kembali menganalisa tujuan IMM yaitu “ Mengusahakan Terbentuknya akademisi islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan muhammadiyah” , disini ketika perluh menganalisa akademisi islam yang berakhlak mulia ini menandakan sudah jelas bahwa kita di ikatan mahasiswa muhammadiyah memiliki tujuan yang jelas dan ini harus diwujudkan bersama untuk kemajuan IMM kedepan. Daan hal ini ketika kita hubungkan dengan isi dari undang-undang dasar 1945 alinea ke 4 yang berbunyi “Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” dimana titik fokus katanya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa maka kader Kader kader-kader ikatan mahasiswa muhammadiyah harus menyadari hal itu dan menjadi spirit juga untuk mewujudkan hal tersebut. Dan diharapkan bahwa gerakan ini gerakan 1000 master dan dokter untuk imm berkemajuan mampu menjadi alternative solusi dari banyaknya kegalauan kader yang dirasakan setelah melewati jenjang strata satunya dan ingin melanjutkan kuliah di mengister tapi tidak mampu maka persoalan ini yang sampai saat ini terjadi mampu terjawab dengan solusi tawaran lembaga ini.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH

MOVEMENT 1000 MASTER AND DOCTORATE FOR IMM PROGRESS
(MUTAKHIRANI MUSTAFA)
It is time for us as a cadre of IMM think about how the quality of capacity to be a plus to be possessed by a cadre of Muhammadiyah student union. Due to difficult to deny that the majority of our cadres who are born cadres who have almost the same orientation to be a politician or teacher and this is not only happening in the commissariat level but also at the branch, DPD and DPP. In my view it is a problem that needed found a solution to it. First needed we do is open the horizons entire cadre that actually IMM it is not only oriented at the level of politicians and religious teacher alone but turned IMM it should also try to think to enter various fields such as social fields of culture, politics, economics, education, health etc. In order to be able to answer the challenges of the next IMM times to enter a more modern world more but still have spiritual values ​​that then constantly actualize and in Campaign in everyday life. But reality happens that many cadres who then do not have the focus of orientation for the development of potential possessed no problem when studied in terms of spiritual because it is an obligation under my glasses as a cadre IMM because of our strength as a cadre is in shutter that is certainly it for personal as improvement themselves and to achieve the goal of which is to create a society Muhammadiyah Islamic truth. Therefore the mapping of cadres is very important to have a wide variety of orientations, after we mapped out and we were able to read the orientation of their existing or potential they have understood better then from that we start to encourage them to focus deepen the talent and potential that they have and can not be separated value investment Muhammadiyah ideology was most important. Our job is to provide support to the measures that the movement of 1000 master and doctorate for imm progress. And of course, as the motivation of their ntuk. And I think to apply this movement then we shape the institution coordinating this movement and I named it "LG1000MD". This draft than Think I'm trying to empower the qualified cadres. Why then the movement in 1000 masters and doctors should strive to set up the institution. And why then should 1000 number one thousand is flexible can be more or even brought it here the figure as word decoration which connotes beautiful so much then cadres potensial optimistic with the institution There are many things that the background it is mainly we want to see IMM fore more progress. Because during the ni of the first arrive  that output IMM it after exiting the structural leadership or else the word has become alumni of course, just a little later which can take part degree National especially at the level of provinces and regions in the absence of empowerment Ader clear other words the absence of official institutions that embodies this. And the most ironic today that leaders imm who has contributed more to the bond even branch chairman or chairman of DPD expected can further activeness to do anything nation and more specifically for Persyarikatan and sustainability of IMM. Even those and then go home each village and become a regular society and unable to do anything and most central obstacle is financial problems. If the ASAT we look if Persyarikatan from charitable efforts of Muhammadiyah has the capacity  not More uncertain but the fact there is no empowerment cadre to foster human resources or human resources are certainly capable competition.OLeh because it no later initiative to form this agency is that "LG1000MD" , LG1000MD institutions have a clear vision and mission, and certainly does not vary much with the aim of IMM. Namely Realizing Human Resources quality and competitiveness capable by disclosing fangs in the Peoples, the ASEAN Economic today that if it were also not to be a spectator in his own country and is able to maintain a culture which is owned Indonesia with a fortune ethnic and racial backgrounds are still preserved walai western culture or foreign cultures entered. Now that perluh I say that this institution certainly is lelmbaga semi-autonomous IMM which must be recognized by the government and is expected to also kerjasanma to Higher Education or the education minister as well as expected this agency also sebaga container for Kakanda scholars who have been successful and would like to help the cadres of the potential for continue studynya can become donors remain at the agency. Not only that this institution also constantly conduct training cadres to focus TOFL or IELS that if it were cadres have a container for it, because the biggest obstacle also for the cadres they then wish to learn TOEFL and IELS but charge for it very expensive oleha therefore we are attempting that The agency also as place cadres of potential in it at a more affordable cost or even no use at all costs. Because one of the drawbacks of cadres is a language that is English and Arabic which we all know if two this language is an international language that must be in the know even controlled so that the movement IMM progress in the face of MEA and Globalization was able to then be faced and even compete in it with SDM -SDM from outside of course. In order to establish this agency first we recommend LG1000MD Institutions to the Central Executive Council who were then able to penetrate the minister of education and Higher Education that if only this institution was inaugurated officially. After this institution was later recognized by the government early this is rare and is expected to also goverment empower this institution and one the excellent when it has been getting a recommendation from the government or agency is certainly a lot of institutions offering scholarships to working with an institution that is then formed. The institute is just one that is central and the DPD, Branch and typing qualified commissariat level then proposal institutions is it to then get a scholarship either Megister or Doctorate. And within the framework of the draft that I think that once also that there is then a cadre who managed to get a scholarship abroad and also where they are-they do gait propaganda as a form of fly IMM level progress for the nation and internationally. And the future of this program if then capable in goel together every year it is expected that the IMM later gave birth to a master and doctor skilled in their fields even to becoming a professor. So that the anxiety father in the leadership of Muhammadiyah was their self case they for achievement cadres - IMM cadres were not able to finish with either academic or unable to be scholars - national or local scholars can then be ignored. With the concrete steps made it extremely proud because as we all know if in the mind set of thinking laymen that cadres cadres or cadres organizations - Muhammadiyah Students Association cadres then just take care of the organization so that its impact is completed or completed acadimition  slow. Actually, perception is starting to edge with the reduced cadres who later completed another word that has been able to complete of their education  on time even more proud again much later cadre - a cadre of leaders IMM became a student role model or achievement at each college or university it is very proud to IMM. A great hope also that when these programs have yielded the expected results of these potential cadres have great contribution to the progress and development of this nation Muhammadiyah Persyarikatan especially for the Muhammadiyah Students Association. I then optimistic designing or tried to propose it because it needs too and a must. It is time we move towards a clear and concrete. Because of the condition and the reality that in this reading if this is very unfortunate. Because one way to develop the Muhammadiyah and the IMM is fostering human resources are the most important that needed . Because of how we can achieve a very fast pace although Muhammadiyah so this time again proceeds achievement if the human resources cadres owned Persyarikatan inadequate or do not have the quality and capacity in various ways. Why then my movement more emphasis point to the world of education because it is one of the most strategic movement to give birth to human resources have sufficient competitiveness. And we re-analyzed the purpose IMM is "Ensuring formation of scholars of Islamic morality in order to achieve the goal muhammadiyah", here when needed analyzing academics Islamic morality indicates it is clear that we in the student union muhammadiyah have clear goals and this should be realized together IMM to progress forward. And this when we connect with the contents of the constitution in 1945 paragraph 4 which reads "Then instead of it to form a government of Indonesia that protect the entire Indonesian nation and the entire country of Indonesia and to promote the general welfare, the intellectual life of the nation, and participate in the establishment of world order based on freedom, lasting peace and social justice "which he says is the focal point of the intellectual life of the nation, the cadre cadre cadre Muhammadiyah student union should be aware of it and the spirit as well as to achieve this goal. And it is hoped that this movement is the movement of 1000 master and doctor to imm progress able to be an alternative solution of the many turmoils cadres felt after passing the undergraduate level only and want to continue studying in mengister but can not afford then this problem which until now has occurred capable answered with solutions           offer    this      institution.
THAT IS ALL AND THANK YOU

                                                    Environment Analysis
                 (The Effect of Classroom Environment on Student Learning )

Based on my reading that is about Environment Analysis  involves looking at the factors that will have a strong effect on decisions about the goals of the course, what to include in the course, and how to teach and assess it. These factors can arise from the learners, the teachers, and the teaching and learning situation. Environment analysis is also called “situation analysis” (Richards, 2001) or “constraints analysis”. A constraint can be positive in curriculum design. For example, a constraint could be that the teachers are all very highly trained and are able and willing to make their own class activities. This would have a major effect on curriculum design as much of the format and presentation work could be left to the teachers. In some models of curriculum design, environment analysis is included in needs analysis. This is the focus of situation analysis. Situation analysis is an analysis of factors in the context of a planned or present curriculum project that is made be political, social, economic, teacher, learner adoption or institutional. Situation analysis complememt

There are many things that can affect this classroom  environment. There are physical elements such as wall art, arrangement of desks, or resources. Also, there are intangible elements such as the energy of the classroom, the rules, or the sounds within the room. Each of these can impact a student’s focus and achievement in the class. They can also affect a teacher’s attitude in the class according to Ryan Hannah (2013). Included in each of these elements of the classroom is the emotional environment. The way in which a teacher organizes their class, or how they control it, will yield positive or negative consequences for their students. If a teacher is unmotivated or negative there will be a direct impact on the students within the classroom. Similarly, if a teacher is motivated and positive they will likely have a beneficial impact on their students as well. It is important for a teacher to understand this cause and effect in order to understand how to organize their classroom to create a better learning .

            In this paper, I will investigate the teacher’s attitude in the classroom. Having a positive attitude, which is choosing to approach difficult circumstances with a productive mindset, can benefit  on several levels. The Mayo Clinic states that a positive attitude can lower your stress level, which is good for your health. A positive attitude can also improve your relationships and change how your boss perceives both you and your teaching.The teacher have to have positive attitude in the classroom to make the students active and get energy in studying. The teacher lead the students to have positive hope, give appreciation, Gratitude, making students confidence and creating the Resilience. I have experience when I was senior high school, I have a teacher who always prepared anyting before teaching include the classroom management where each students had different seat in different meeting so everyday the students have new situation tha was not making us bored in the class, beside that the all students enthusiastic to join her class because not only, she had good management classroom but she always give the students motivation a lot and appreciation, and she was never underestimate their students. She has positive attitude to the students and all the students easy to understand their material and enjoy to join her class.


The research that the title relevant with teacher’s attitude  is the Effect of Teacher Attitude, Experience, and Background Knowledge on the use of inquiry Method teaching in the Elementary classroom. This research was conducted to see how much of a role teacher's attitudes towards science itself, and science instruction in particular, plays in deciding to use an inquiry approach to teaching science. Surveys concerning science background, science training and instruction, and teacher attitude towards science were sent to teachers currently in elementary classrooms teaching science (Cathleen Garcia, 2003 ). Others research that relevant is The Impact Of Teacher-Student Interaction On Student Motivation And Achievement with particular reference to study design  Tisome t. Nugent (2009, p. ii) Suggested uses for the study included the development of workshops for educators and administrators that may have a positive effect on the proven significance of the teacher-student relationship problem. The results suggest the need for teachers to be provided with appropriate resources and assistance to meet the needs of their students beyond academic instruction. Teaching effectiveness was found to mediate the effect of punishment on motivation while motivation mediated the effect of punitive strategies on achievement. Motivation was found to have the strongest effect on achievement. Beside teacher attitude and teacher motivation research that is relative with classroom environment is Influence Of Effective Classroom-Management & Positive Teaching District  that found about offers practical information for primary teachers to become more knowledge able, skilled and effective
in their work. Aspects of positive teaching and learning are explored. Innovative methods for transforming common classroom management struggles into opportunities for positive change and for changing negative behaviors into positive interactions are explained. Classroom climate, expectations, motivation, and methods for constructive reflection on mistakes are investigated to support teachers in developing a positive learning environment, code of conducted by (Katharina Sieberer-Nagler, 2015). This positive attitude helps the teachers to be role model for the future generation of students. Base on the research that is The Effects Of Teachers’ Attitudes On Students’ Personality And Performance, the most important findings of the research evidenced that teachers’ positive attitudes have positively influence students’ personality as well as their life performances. Based on these findings teachers’ role in lifespan education as beyond a simple knowledge transformation is discussed (Melis Seray Ozden at all).























































REFERENCES

Cathleen Garcia, (2003). The effect of teacher attitude, Experience, and background Knowledge on the use of inquiry Method teaching in the Elementary classroom. In partial fulfillment of the requirements in SCE 5308.
Hannah ,Ryan. (2001). The Effect of Classroom Environment on Student Learning. Honors Theses. Paper 237
Nugent,Tisome T. (2009). The Impact of Teacher-Student Interaction on Student Motivation and Achievement Teacher Preparation. B.A. University of the West Indies.
Ricards. (2001). Curriculum Development in Language Teaching. Cambridge University press.
Seray Ozden, Melis (2011). The effects of teachers’ attitudes on students’ personality and performance. Istanbul Kultur University, Department of Psychology, Istanbul, 34156, Turkey.
Sieberer-Nagler, Katharina. (2015). Effective Classroom-Management & Positive Teaching. Published by Canadian Center of Science and Education.







Hoax Mulai Meracuni Rakyat Indonesia, Bagaimana Mengatasinya? Dizaman perkembangan tekhnologi  yang semakin pesat serta meraja lelahnya ...